Galamai Talang, Kuliner Khas Batu Bajanjang Lembang Jaya

Galamai Lamang, Kuliner Khas Batu Bajanjang Lembang Jaya
liputan : Dedi Hermanto


Berbagai macam kuliner dapat kita temui di berbagai  tanah air, apa lagi menjelang Lebaran Idul Fitri yang sebentar lagi akan tiba. Bagi masyarakat Sumatera Barat ada sebuah tradisi yang tidak bisa ditinggalkan dan sudah secara turun temurun di lakukan yakni mambuek kue Rayo.

Dinagari Batu Bajanjang kecamatan Lembang Jaya kabupaten Solok Jorong korong Lambah Balai Baruah ada sebuah tradisi membuat penganan berupa Galamai Talang. pembuatan galamai yang dilakukan tidak sama dengan galamai yang dimasak dengan kuali,tetapi galamai ini dimasak dengan menggunakan Bambu (betung), mirip dengan pembuatan Lemang (Lamang).

Nenek Manih (84) ketika SuhaNews menyambangi rumahnya Senin(03/06) mengatakan bahwa Galamai ini adalah penganan yang sudah menjadi tradisi di keluarga kami secara turun temurun mulai dari nenek moyang kami dulu katanya, biasanya galamai  ini dibuat pada hari hari besar keagamaan seperti  acara Maulid Nabi atau acara Baralek yang dipesan  oleh  Anak Pisang ka Induak Bako yang istilahnya disebut Bakandak, tapi yang selalu rutin dibuat ketika hari lebaran katanya sambil tersenyum.

"Sekilas sama bentuk nya dengan Lamang, namun isinya galamai kalau di tempat kami namanya galamai Talang"sebut nenek Manih.

Proses pembuatannya pun tidaklah sulit, bahan bahan yang disediakan seperti tepung Beras Mesin, gula Tebu, santan Kelapa, Kacang, Vanile, dan garam secukupnya serta Talang (Bambu) sebagai medianya ulasnya.

"Mula mula Kelapa di peras kemudian diambil santannya, terus santan itu dimasak sekitar setengah jam.setelah itu Santan didinginkan.

Setelah dingin santan diaduk dengan tepung Beras yang telah disiapkan tadi, kemudian didiamkan selama satu malam, paginya adonan itu dicampur dengan gula tebu yang telah dihancurkan pakai air panas setelah itu adonan kemudian dimasak sampai warnanya kelihatan kemerahan, seterusnya di kasih kacang, vanile dan garam secukupnya baru di masukkan kedalam talang yang telah disediakan itu", beber Nenek Manih.

Yusman Neneng (23) cucu dari nenek Manih menambahkan biasanya memanggang Galamai Talang itu apinya tidak terlalu Besar yang sedang saja, terus dibiarkan lamanya sekitar  satu jam tergantung dari yang memasak ulas Neneng.

"Tradisi ini sebenarnya sudah mulai pudar seiring dengan perkembangan Zaman, namun kami tetap mempertahankannya dengan alasan inilah ciri khas kampung kami, sebenarnya tidak semua cucu nenek Manih bisa membuatnya dan rasanya pun terkadang tidak seenak bikinan nenek" kata Neneng menimpali.

Yusman Neneng berpesan bagi yang teringat penganan galamai talang ini silahkan mampir ke kampung kami karna di pasar sudah tidak ditemukan lagi, apa lagi para perantau minang yang dahulunya doyan Galamai Talang ini pungkas nya mengakhiri wawancaranya dengan Suhanews. ****